Globalisasi, Identititas dan Karakter Bangsa

        Terima kasih atas kunjungan anda, disini saya akan share beberapa file yang saya miliki, semuanya ini adalah beberapa file yang saya peroleh ketika mengikuti beberapa acara seminar yang duselenggarakan oleh kampus saya semasa kuliah dulu Universitas Negeri Surabaya / UNESA.


Globalisasi, identititas dan karakter bangsa

          Indonesia adalah Negara yang sangat luas dengan seni budayanya yang kaya beragam dan potensial, mampu bersaing dengan budaya dunia lainnya. Memang di sisi lain kita akui terdapatnya margin dan kesenjangan tingkat kehidupan social, ekonomi, pendidikan, kemakmuran dan kesejahteraan jasmani maupun rohani di beberapa tempat yang berbeda di Indonesia yang masih sangat lebar. Masyarakat Indonesia hidup dalam fase gelombang ekonomi dari yang ke satu (pertanian dan craft) sampai fase yang ke keempat (industri kreatif) dalam waktu yang bersamaan namun di berbagai tempat yang berbeda. Namun ada satu hal yang karena sebagian besar dari masyarakat Indonesia menjadi konsumen yang baik dari dan menikmati produk teknologi  transportasi, informasi dan komunikasi canggih. Produk teknologi itu antara lain adalah televisi, telepon seluler, internet (jaringan dunia maya) dan produki rekaman kesenian dalam bentuk audio visual, yang menjangkau semua orang di hampir seluruh pelosok Nusantara dan lapisan masyarakat. Seperti yang kita ketahui bahwa teknologi informasi ini telah mampu mengubah gaya hidup masyarakat kita, ikut terkena arus globalisasi. Orang di tengah hutan dan yang tak terjangkau dunia pendidikan pun berpakaian jean, mendengarkan musik pop, melihat film India atau Holywood, mengkonsumsi makanan seperti orang di Jakarta bahkan New York, namun dengan pola pikir atau tingkat intelektual yang jauh berbeda.    

          Hal serupa tidak hanya terjadi di Indonesia tetapi juga di negara negara berkembang atau dunia ke tiga lainnya di dunia. Fenomena inilah seperti yang kita kenal sebagai globalisasi. Dimana mana ada Mc Donald, Starbuck, Blackberry, IPhone, Harry Potter, DKNY, Dior, Shakira, Rihana, Jacky Chen, Lionel Messi maupun Shahru Khan. Sedangkan ayam betutu, bothok, palu butung, coto pempek, woku, bajigur makin tidak dikenal dan kurang dikonsumsi oleh orangorang Indonesia. Paling menderita lagi adalah kesenian kesenian teater tradisonal seperti Makyong, teater bangsawan, wayang orang, arja, ludruk, sandur, kethuk tilu, beskap, ulos, kain tenun, wedel dan sebagainya semakin terdesak, bahkan tinggal ceritanya saja. Demikian juga kliningan, selunding, gordang sembilan, berbagai permainan anak dan berbagai upacara adat kraton, kepercayaan dan keluarga juga menghilang. Busana dan kesenian yang terkait dengan upacara upacara tersebut juga ikut hilang atau beralih fungsi sebagai atraksi (bukan sajian seni lagi)  turis atau barang pajangan museum. Bila nasibnya baik, dan ada seniman kreatif yang mau mengubah dan menggarapnya menjadi bentuk sajian pertunjukan baru atau kontemporer yang bermutu, barulah kesenian tersebut mampu eksis bahkan menyeberangi tembok wilayahnya, menyeberangi lautan dan berjaya di negeri orang, alias mendunia.      

          Memang, tidak sedikit kesenian (local) Indonesia yang berhasil berbicara di forum terhormat di dunia, hidup berdampingan dengan kesenian dan seniman kelas dunia lainnya. Sebenarnya, sekaranglah saatnya yang tepat, di era gerakan ekonomi gelombang ke empat yang disebut dengan era industri kreatif, kesenian, kuliner, fashion, turism, olah raga adalah bidang bidang yang dapat diandalkan untuk bicara dan bersaing di tingkat dunia. Ketika di era globalisasi melanda di berbagai belahan dunia, dan di mana mana menjadi “sama”, muncullah rasa kejenuhan dan atau kebosanan yang super berat terhadap kesamaan global. Berbagai negara, (termasuk barat, Eropa atau Amerika), bangsa dan bahkan manusia (secara pribadi) merasakan adanya krisis identitas. Mereka menanyakan kembali jati dirinya sendiri, rindu kepada budayanya sendiri,  walau tidak harus sama atau kembali bernostalgia pada identitasnya yang lama. Mereka mencari sesuatu yang baru, bentuk yang baru, warna yang baru atau dengan kata lain identitas baru dengan karakter yang baru pula.
          Tahun  80-an akhir, negara negara maju di Asia, terutama Jepang, Singapore dan Korea mulai gelisah dengan kehilangan identitas mereka. Ketika mereka telah berhasil mengejar ketinggalannya terhadap negeri barat dalam berbagai hal, termasuk ilmu pengetahuan, teknologi dan industri. Semua yang ada di barat termasuk musik barat berhasil mereka lahap. Banyak pemusik dan konduktor orkes symphony di dunia adalah orang orang Jepang dan Korea, (sekarang Vietnam mulai menyusul). Juga metode pengajaran musik, salah satunya adalah metode Suzuki. Juga alat alat musik produksi Jepang  seperti gitar dan piano, organ buatan Yamaha, telah mampu duduk sejajar bahkan menggeser posisi produksi Eropa. Demikian pula dengan fashion, parfum, accessories, camera, jam tangan, dan sebagainya. Di saat itu pula para budayawan dan senimannya mulai sadar bahwa mereka telah menjadi barat melebihi orang barat, alias kehilangan jati diri mereka. Perlu diketahui bahwa pada saat itu sudah tiada satupun sekolah musik atau sekolah kesenian di Jepang yang mengajarkan musik, tari atau teater Jepang. Gaya hidup pemuda pemudi Tokyo lebih New York dari pada orang New York.  Tidak banyak pemuda Jepang yang bisa menyanyikan lagi lagu Jepang. Noh dan Kabuki tinggal menjadi seni etalase untuk turis, wanita Jepang sudah jarang ber kimono, dan sebagainya dan sebagainya.    

          Muncul kemudian gerakan yang dipelopori oleh seniman seniman dan budayawan kreatif yang disebut dengan gerakan renaissance, kebangkitan kembali budaya Jepang baru. Mereka membuat karya karya baru yang menggunakan materi dan idiom Jepang dengan cara pendekatan, idiom dan pesan baru. Munculah teater butoh dengan tokohnya Katsuo Ono. Teater ini  kadang juga menggunakan musik barat, namun dengan pendekatan yang ironis, oto kritik, seperti mentertawakan dirinya sendiri. Kemudian muncul komposer komposer yang menggunakan instrument tua termasuk lithophone (batu) dengan garapan baru (oleh Toshi Tsuchitori). Muncul kelompok teater  modern yang terkenal, Sankai Yuku dan sebagainya. Disamping itu tidak sedikit seniman seniman Jepang yang kemudian melakukan kolaborasi, berkerja bersama dengan seniman seniman dari Asia, termasuk dari Indonesia (saya beruntung mendapat kesempatan berkali kali bekerja dengan seniman seniman Jepang). Kolaborasi antara timur dan timur adalah trend baru mulai tahun 80-an akhir. Biasanya kolaborasi hampir selalu antara barat dengan timur, utara dengan selatan dengan pihak barat atau utara sebagai inisiator, sebagai pemimpin sekaligus penyandang dana, sedangkan seniman dari timur atau seatan sekedar sebagai pelengkap. Kelompok kelompok kesenian dari Indonesia banyak yang diundang ke Jepang, sebaliknya banyak juga orang Jepang yang datang ke Indonesia untuk belajar gamelan atau wayang atau kesenian dari budaya lain di Indonesia. Tokyo University kemudian membuka program study etnomusikologi yang di pelopori oleh Prof. Koizumi dengan mengajarkan gamelan Jawa .  Kemudian disusul oleh beberapa universitas lainnya di jepang. Mereka kemudian juga membuka program musik gamelan Bali, Sunda dan sebagainya. Menurut mereka, - beberapa seniman Jepang-, Indonesia adalah salah satu contoh kasus bagaimana para seniman dan atau budayawannya berhasil melestarikan kesenian atau kebudayanya menjadi modern atau baru tanpa harus menjadi barat. Kesenian atau kebudayaan tetap memiliki identitasnya yang baru, namun tetap bekarakter Indonesia, - Indonesia yang baru. Dapat tetap bernuansa atau berbentuk sebagai kesenian Jawa namun yang modern, yang meng Indonesia atau bahkan Jawa modern atau Jawa yang mengkini (kontemporer), yang mendunia. 

          Sebenarnylah telah terdapat beberapa negara, terutama di barat, dan seniman seniman dari negara tersebut yang telah lama menaruh perhatian, melakukan studi dan menggunakan kesenian Indonesia terutama gamelan sebagai inspirator dan atau pemicu terhadap penciptaan karya karya barunya. Karya karya tesebut kemudian berhasil membentuk identitas atau karakter budaya mereka yang seterusnya mampu mempengaruhi kehidupan musik atau tari atau teater dunia. Tahun 1880-an Debussy telah menggemparkan dunia musik dengan ciptaannya yang dianggap sebagai cikal bakal genre musik modern. Prelude d’apres midi adalah karyanya yang mendapat pengaruh dari gamelan Jawa yang kemudian dianggap sebagai tonggak sejarah musik modern. Debussy kemudian diikuti oleh ratusan komposer dunia. Di pertengahan abad 20 lagi lagi gamelan telah mengispirasi lahirnya musik minimalis dengan tokoh tokohnya seperti Steve Reich, Philip Glass, Theiry Reley, dan sebagainya. Pada menjelang akhir abad 20 muncul lagi genre music baru yang disebut dengan World Music, dimana gamelan juga ikut berperan, ikut andil dalam proses kelahiran genre musik tersebut. Robert E Brown, John Cage, Lou Harrison adalah beberapa komposer dunia yang bisa saya sebut namanya sebagai pelopor jenis musik World Music.

          Ketika di dunia musik, teater dan atau tari di barat, eksplorasi, penjelajahan dan eksperimentasi terhadap materi, idiom dan metode penciptaan telah dilakukan secara habis habisan di barat, maka para seniman di sana kemudian  mulai mencari, mengembara mengejar materi, idiom, metodologi (dalam kata lain mencari darah segar) dalam membuat karya karyanya yang baru dengan merambah ke luar Eropa.  Asia, terutama Indonesia yang kaya dengan seni dan budayanya yang beragam dan potensial menjadi lahan yang subur dan menarik bagi mereka. Demikian juga Afrika. Direktur direktur terbaik di dunia seperti Peter Brook dengan karyanya Mahabharata, Robert Wilson dengan karyanya I La Galigo, Peter Sellars dengan karyanya Le Grand Macabre dan The Flowering Tree (kerjasama dengan komposer kenamaan John Adam), July Tymor dengan karya musikalnya Lion King adalah sekedar contoh masterpiece dunia yang memanfaatkan materi seni Indonesia tersebut. Demikianp pula wayang, telah banyak memberi inspirasi lahirnya teater boneka (Muppet Show) dan karya karya animasi yang lain.

          Kesenian Indonesia, terutama bidang yang saya akrabi yaitu musik gamelan, telah mendunia karena nilai dan karakternya yang sekarang ini banyak dibutuhkan bukan saja pada dunia kesenian khususnya musik, tetapi juga untuk kehidupan manusia. Awal abad 20 bersamaan dengan awalnya peradaban modern dengan ditandai oleh pesatnya perkembangan ilmu, teknologi dan industri. Berbagai jenis pekerjaan yang semula dilakukan oleh (tangan) manusia digantikan oleh mesin dan diproduksi secara massal oleh pabrik. Orang kemudian banyak menjadi spesialis dan bekerja sendirian berhadapan dengan mesin, membawa dampak pada rasa dan sikap individualistis yang tinggi dan akhirnya banyak orang yang menderita “masalah” atau syndrom keterasingan. Di saat itulah gamelan Jawa muncul, diperlukan dan sebagai alternatif therapy terhadap sifat individualistis yang kebablasan serta problem keterasingan mereka. Musik Karawitan Jawa memiliki karakter yang kebetulan “tepat” sebagai terapi terhadap fenomena social budaya tersebut.
Berikut adalah beberapa karakter musik gamelan Jawa (karawitan)
  1. Kebersamaan. Prinsip dasar bermain gamelan adalah kebersamaan. Semua instrumen bermain bersama sama mulai dari awal sampai akhir. Dalam karawitan Jawa tidak ada permainan solo, suatu instrument tertentu main sendiri dan memiliki fungsi spesial, lebih penting dari instrument lainnya seperti pada budaya musik barat. Dalam bermain, karawitan Jawa juga mementingkan kerjasama dimana antara pengrawit (pemusik) yang satu memberi ide musical pada yang lain, kemudian dikembangkan dan atau diteruskan menuju nada seleh (cadence) tertentu sebagai terminal atau goal. Dalam bermain bersama, setiap musisi saling memberi umpan musical, seperti halnya bermaim sepak bola atau dialog seperti layaknya sebuah sarasehan. Mereka bermain dengan posisi dan perannya masing masing untuk mencapai target tertentu. Target tersebut adalah rasa dan karakter gending dan pemenuhan fungsi musik atau gaamelan dalam kontes tertentu. Kebersamaan ini sangat dirindukan di dunia barat yang kehidupan sehari harinya sudah sangat individualistic.
  2. Kesetaraan. Dalam karawitan Jawa semua instrumen atau pemusik nyaris memiliki kedudukan yang sama. Tidak diseyogyakan permainan satu instrument lebih menonjol, lebih keras, atau mendahului permainan instrumen yang lain. Di dalam arawitan Jawa dikenal dengan istilah rampak, seimbang dalam tempo, dan rempeg, seimbang dalam hal volume dan diamik. Karakter ini sekarang dimanfaatkan sebagai terapi bagi orang orang yang egois, termasuk untuk para nara pidana di lebih dari 30 penjara di Inggris dan 5 penjara di Perancis. Kegiatan ini dipelopori oleh Kathy Eastburn dengan institusinya yang disebut Good Vibration yang bermarkas di London. 
  3. Saling mendengarkan. Karawitan termasuk musik tradisi lisan. Cara transfer of knowledge, cara main untuk bisa bersama dan kompak tidak dipimpin oleh seorang konduktor yang memberi aba aba secara visual. Semuanya perubahan musical dilakukan lewat kode auditif, dengan bunyi. Mereka saling mendengarkan sesama pemusik yang lain dikelompoknya. Kendang sering dianggap sebagaai konduktor atau playmaker dalam ansambel gamelan. Karakter ini sekarang sangat bermanfaat juga untuk terapi dan pembentukan karakter bagi seseorang yang mau menang sendiri, tidak mau mendengarkan orang lain. Di Indonesiapun nampaknya sudah menggejala makin banyak terdapat pimpinan yang hanya mau dan harus didengar kata katanya namun ia tidak mau mendengar orang lain, apalagi orang kecil, - rakyat.
  4. Halus. Karawitan Jawa dikenal sebagai musik yang halus, bahkan pada awal tulisan ini gamelan Jawa diberi stigma sebagai musik yang membuat ngantuk, karena dianggap datar, monotone dan tidak dinamis. Kehalusan  ini sekaang juga sangat dibutuhkan ketika sekarang terlalu banyak orang yang beringas, mudah tersinggung, emosinal disebabkan oleh hal hal yang sepele. Pembunuhan, terorisme mudah terjadi karena masalah sepele.  Kehalusan karakter dan mau mendengar adalah sarana yang baik dalam pengendalian diri dan pengendalian emosi.
  5. Toleransi. Dalam karawitan toleransi adalah hal yang utama. Pada karawitan Jawa tidak ada standardisasi (tangga) nada, tempo, dan cara bermain yang dianggap benar dan salah. Konsep fales atau blero juga boleh dikatakan tidak ada. Ketidak samaan nada justru menimbulkan “harmoni” yang menarik, karena menimbulkan gelombang bunyi yang memiliki karakter khas,  yang menarik,  berbeda antara gamelan yang satu dengan gamelan lainnya. Dalam dunia karaitan tidak ada istilah benar dan salah, tetapi lebih sering digunakan istilah enak atau tidak enak, laras atau kurang laras,  mantap atau kurang mantap, jelek atau jelek saja belum, dan sebagainya.
  6. Pelan. Di Indonesia mungkin pelan sering dianggap sebagai sesuatu yang membosankan, namun di negeri maju seperti di Amerika, di Eropa, di Jepang dan sebagainya, dimana ritme hidup sudah sedemikian cepatnya, hidup serba tergesa gesa. Di jalan orang pada berjalan seperti orang lari, juga di stasiun kereta api orang berlari mengejar dan berebut kereta. Di kantor orang harus bekerja cepat karena untuk keperluan produktivitas, efektifitas dan efesiensi. Dalam situsai yang demikian, nilai pelan pelan kemudian menjadi kerinduan, kebutuhan dan sebagai penyeimbang kehidupan mereka yang serba cepat. Tari, teater, musik yang pelan dan kontemplatif saat ini sedang menjadi mode di barat.  Pada karya Robert Wilson terdapat bagian yang semua aktor “hanya” berjalan pelan pelan dan nyaris tidak ada gerakan lain selama hampir 30 menit. Bahkan John Cage pernah menggelar karya music happeningnya yang berjudul 7 menit atau Silence . Selama 7 menit ia muncul di pentas hanya diam saja, tidak ada bunyi sama sekali, kemudian hormat dan masuk panggung.  
  7. Terbuka. Musik karawitan diri membuka diri mau menerima dengan tangan tetbuka segala macam pengaruh dan unsur budaya dan musik apa saja dan dari mana saja; Hindu, Budha, Nasrani, kejawen, Islam, barat, Arab. Ndangdut, India dan sebagainya tanpa ada konflik yang berarti. Maka tidak mengerankan bahwa banyak komponis membuat karya dengan menggunakan gamelan dan sering digabungkan atau diklaborasikan dengan musik dari budaya atau bangsa lain.
  8. Luwes. Seperti kita ketahui bahwa gamelan Jawa telah membuktikan kepiawaian dan keluwesnya digunakan untuk berbagai keperluan, fungsi dan kegunaan. Mulai dari kelengkapan upacara agama, upacara kerajaan, kenegaraan, hiburan, konser mandiri, menyertai tari, wayang, kethoprak, teater, sandiwara radio, iklan. Kampaanye politik, film dalam bentuk daan genre yang tradisi maupun yang sangat kontemporer atau avant – garde .
Masih banyak karakter dan kandungan nilai lain dari musik karawitan/gamelan Jawa yang bisa diceriterakan menjadi satu buku sendiri. Hal inilah yang antara lain menyebabkan gamelan mendunia dan digunakan untuk berbagai keperluan dan kepentingan, karena potensi dan kwalitasnya .

Sumber: MakalahSN/Pend.Seni2011/R.Supanggah/ISI Surakarta

Subscribe to receive free email updates: